Sabtu, 24 Oktober 2009

PERANAN BAHASA INDONESIA DALAM KONSEP ILMIAH

Salah satu peranan bahasa Indonesia dalam konsep ilmiah adalah dalam penngunaan tanda baca, berikut diberikan contohnya:

A. Tanda titik dipakai :
1. pada akhir kalimat;
2. pada singkatan nama orang;
3. pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan;
4. pada singkatan atau ungkapan yang sangat umum;
5. di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, dan
daftar;
6. untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan
waktu;
7. untuk memisahkan angka jam, menit, detik yang menunjukan
jangka waktu;

B. Tanda titik tidak dipakai :
1. untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang
tidak menunjukkan jumlah ;
2. dalam singkatan yang terdiri atas huruf–huruf awal kata atau suku
kata, atau gabungan keduanya, yang terdapat di dalam nama
badan pemerintah, lembaga–lembaga nasional atau internasional,
atau yang terdapat di dalam akronim yang sudah diterima oleh
masyarakat.
3. di belakang alat pengirim dan tanggal surat, atau nama dan alamat
penerima surat.

C, Tanda koma dipakai :
1. di antara unsur–unsur dalam suatu perincian dan pembilangan
2. untuk memisahkan kalimat setara;
3. untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat;
4. di belakang kata seru yang terdapat pada awal kalimat;
5. di belakang kata atau ungkapan penghubung antara kalimat yang
terdapat pada awal kalimat;
6. untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain;
7. di antara unsur-unsur alamat yang ditulis berurutan;
8. untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya;
9. di antara nama orang dan gelar akademik;
10. di muka angka persepuluhan;
11. untuk mengapit keterangan tambahan, atau keterangan aposisi.





D. Tanda titik koma dipakai :
1. untuk memisahkan bagian–bagian kalimat yang sejenis dan setara;
2. untuk memisahkan kalimat yang setara dalam kalimat majemuk
sebagai pengganti kata penghubung.

E. Tanda titik dua dipakai :
1. pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau
pemerian;
2. sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian;
3. dalam teks drama sesudah kata yang menunjukan pelaku dalam
percakapan
4. kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang
mengakhiri pernyataan;
5. di antara jilid atau nomor dan halaman, di antara bab dan ayat
dalam kitab – kitab suci, atau di antara judul dan anak judul suatu
karangan (karangn Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup :
Sebuah Studi, sudah terbit).

F. Tanda hubung (-) dipakai :
1. untuk menyambung suku–suku kata dasar yang terpisah karena
pergantian baris;
2. untuk menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya;
3. menyambung unsur–unsur kata ulang;
4. menyambung huruf kata yang dieja;
5. untuk memperjelas hubungan bagian–bagian ungkapan;
6. untuk merangkaikan se- dengan angka, angka dengan –an,
singkatan huruf besar dengan imbuhan atau kata;
7. untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa
asing.

G. Tanda pisah (--) dipakai :
1. untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi
pelajaran(kemerdekaan bangsa itu – saya yakin akan tercapai –
diperjuangkan oleh
2. untuk menegaskan adanya aposisi atau keterangan yang lain
sehingga kalimat menjadi lebih jelas (Rangkaian penemuan ini –
evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom – telah
mengubah konsepsi kita tentang alam semesta).
3. di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti ‘sampai dengan’
atau di antara nama dua kota yang berarti ‘ke’ atau sampai (1945
– 1950 :Bandung – Jakarta).

H. Tanda elipsis (. . .) dipakai :
1. untuk menggambarkan kalimat yang terputus : Misalnya : Kalau
begitu … ya, marilah kita berangkat.
2. untuk menunjukan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang
dihilangkan :
Misalnya : Sebab-sebab kemerosotan . . . akan diteliti lebih lanjut.

I. Tanda petik (‘. . .’) dipakai :
1. mengapit petikan langsung;
2. mengapit judul syair, karangan, dan bab buku apabila dipakai
dalam kalimat;
3. mengapit istilah ilmiah yang masih kurang dikenal.

J. Tanda petik tunggal (‘…’) dipakai :
1. mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan petikan lain,
misalnya :
Tanya basri, “Kaudengar bunyi ‘kring – kring tadi’?
2. mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing,
misalnya :
rate of inflation ‘laju inflasi’.

K. Tanda garis miring (/) dipakai :
1. dalam penomoran kode surat,
misalnya : No. 7/ PK/ 1983 ;
2. sebagai pengganti kata dan, atau, per atau nomor alamat,
misalnya:
mahasiswa / mahasiswi, hanya Rp 30,00 / lembar, Jalan Banteng
V / 6.

L. Tanda penyingkat atau apostrop (‘) dipakai :
Menunjukkan penghilangan bagian kata,
Misalnya : Amin ‘kan kusurati (‘kan =akan) Malam ‘lah tiba
(‘lah=telah)

Bahasa Indonesia dikenal sebagai bahasa aglutinatif. Artinya,
kata dalam bahasa Indonesia bisa ditempeli dengan bentuk lain, yaitu
imbuhan. Imbuhan mengubah bentuk dan makna bentuk dasar yang
dilekati imbuhan itu. Karena sifatnya itulah, imbuhan memiliki peran
yang sangat penting dalam pembentukan kata bahasa Indonesia. Dengan
demikian, sudah selayaknyalah, sebagai pemakainya, kita memiliki
pengetahuan mengenai hal ini.
Dalam bahasa Indonesia, imbuhan terdiri atas awalan, sisipan,
akhiran, dan gabungan awalan dengan akhiran yang disebut konfiks dan
gabungan afiks dalam ilmu bahasa. Awalan yang terdapat di dalam
bahasa Indonesia terdiri atas me(N)-, be(R)-, di-, te(R), -pe(N)-, pe(R)-,
ke-, dan se-, sedangkan sisipan terdiri atas -el-, -em-, dan -er-; akhiran
terdiri atas -kan, -i, dan -an; konfiks dan gabungan afiks terdiri atas
gabungan awalan dengan akhiran. Awalan dan akhiran masih sangat
produktif digunakan, sedangkan sisipan tidak produktif. Walaupun
demikian, semua imbuhan termasuk sisipan di dalamnya, apabil a
diperlukan, masih dapat kita manfaatkan, misalnya, dalam penciptaan
kosakata baru atau dalam penerjemahan atau penyepadanan istilah asing.

Awalan me(N)-
Proses pengimbuhan dengan awalan me(N)- terhadap bentuk dasar
dapat mengakibatkan munculnya bunyi sengau atau bunyi hidung dapat
pula tidak. Hal tersebut bergantung pada bunyi awal bentuk dasar yang
dilekati awalan tersebut. Bunyi awal bentuk dasar dapat luluh, dapat pula
tidak bergantung pada jenis bunyi bentuk dasar yang dilekati awalan.
Untuk memperjelas hal tersebut, perhatikan contoh berikut.
me(N)- + buat → membuat
me(N)- + pakai → memakai
me(N)- + fotokopi → memfotokopi
me(N)- + dengar → mendengar
me(N)- + tatar → menatar
me(N)- + jabat → menjabat

BAB III BENTUKAN KATA

IMBUHAN

Bahasa Indonesia dalam Penulisan Karya Ilmiah
me(N)- + colok → mencolok
me(N)- + suruh → menyuruh
me(N)- + ganti → mengganti
Apabila bentuk dasar yang dilekati hanya berupa satu suku kata,
me(N)- berubah menjadi menge-, misalnya, dalam contoh berikut.
me(N)- + cap → mengecap
me(N)- + pak → mengepak
Namun demikian, perlu kita perhatikan jika bentuk dasar tersebut
ditempeli awalan di-, bentuk yang ditempelinya tidak mengalami
perubahan. Kita perhatikan contoh berikut.
di- + pak → dipak
di- + tik → ditik
di- + cap → dicap
Berdasarkan contoh-contoh yang sudah kita kenal dengan baik,
dapat kita simpulkan bahwa untuk membentuk kata secara benar, kita
harus mengetahui bentuk dasarnya.

Awalan be(R)-
Awalan be(R)- memiliki tiga variasi, yaitu ber-, be-, dan bel-.
Variasi tersebut muncul sesuai dengan bentuk dasar yang dilekatinya,
misalnya, dalam contoh berikut.
be(R)- + usaha → berusaha
be(R)- + diskusi → berdiskusi
be(R)- + korban → berkorban
be(R)- + kerja → bekerja
be(R)- + serta → beserta
be(R)- + ajar → belajar
Kata beruang sebagai kata dasar berart i sejenis binatang,
sedangkan sebagai kata berimbuhan, yang terdiri atas ber- dan uang
memiliki arti mempunyai uang; ber- dan ruang berarti memiliki ruang’.
Kata tersebut akan menjadi jelas artinya jika terdapat dalam konteks
kalimat. Begitu pula halnya dengan kata berevolusi yang terdiri atas berdan
evolusi atau ber- dan revolusi.
Dalam keseharian kini sering digunakan kata berterima atau
keberterimaan. Dalam hal ini awalan ber- sejajar dengan awalan di-. Jadi,
berterima sama dengan diterima, misalnya, dalam kalimat Usulan yang
disampaikan kepada Bapak Gubernur sudah berterima. Kata berterima
dan keberterimaan merupakan padanan acceptable dan acceptability
dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Melayu, imbuhan ber- yang sepadan
dengan di- merupakan hal yang lazim, peribahasa gayung bersambut,
kata berjawab berarti gayung disambut, kata dijawab.

Awalan te(R)-
Awalan te(R)- memiliki variasi ter-, te-, dan tel-. Ketiga variasi
tersebut muncul sesuai dengan bentuk dasar yang dilekatinya. Layak
diingat bahwa awalan ini memiliki tiga macam arti dalam pemakaiannya.
Pertama, artinya sama dengan paling. Kedua, menyatakan arti tidak
sengaja. Ketiga, menyatakan arti sudah di- Misalnya dalam contoh di
bawah ini.
te(R)- + dengar → terdengar
te(R)- + pandai → terpandai
te(R)- + rasa → terasa

Awalan pe(N)- dan pe(R)-

Awalan pe(N)- dan pe(R)- merupakan pembentuk kata benda.
Kata benda yang dibentuk dengan pe(N)- berkaitan dengan kata kerja
yang berawalan me(N)-. Kata benda yang dibentuk dengan pe(R)-
berkaitan dengan kata kerja yang berawalan be(R)-. Awalan pe(N)-
memiliki variasi pe-, pem-, pen-, peny-, peng-, dan penge-. Variasi
tersebut muncul bergantung pada bentuk dasar yang dilekati pe(N)-. Kita
lihat contoh berikut:
pe(N)- + rusak → perusak
pe(N)- + laku → pelaku
pe(N)- + beri → pemberi
pe(N)- + pasok → pemasok
Dalam keseharian sering dijumpai bentuk pengrajin yang berarti
orang yang pekerjaannya membuat kerajinan’. Bila kita bandingkan
dengan kata pe(N)- + rusak menjadi perusak yang berarti orang yang
membuat kerusakan’, bentuk pengrajin merupakan bentuk yang tidak
tepat. Kita ingat saja bahwa kedua kata tersebut, rajin dan rusak,
merupakan kata sifat. Karena itu, bentuk tersebut harus dikembalikan
pada bentuk yang tepat dan sesuai dengan kaidah, yaitu perajin.
Awalan pe(R)- memiliki variasi bentuk pe-, per-, dan pel-. Variasi
tersebut muncul sesuai denngan bentuk dasar yang dilekati awalan pe(R)-.
Kita lihat contoh berikut:
pe(R)- + dagang → pedagang
pe(R)- + kerja → pekerja
Kata-kata sebelah kanan berkaitan dengan awalan ber- yang
dilekati dengan kata dasar dagang, kerja, tapa, dan ajar. Jadi, kata-kata
tersebut berkaitan dengan kata berdagang, bekerja, bertapa, dan belajar.
Selain kata-kata itu, kita sering melihat kata-kata lain seperti
pesuruh dan penyuruh. Kata pesuruh dibentuk dari pe(R)- + suruh,
sedangkan penyuruh dibentuk dari pe(N)- + suruh. Pesuruh berarti yang
disuruh’ dan penyuruh berarti yang menyuruh’. Beranalogi pada kedua
kata tersebut kini muncul kata-kata lain yang sepola dengan pesuruh dan
penyuruh, misalnya, kata petatar dan penatar, pesuluh dan penyuluh.
Dalam bahasa Indonesia sekarang muncul pula bentuk kata yang
sepola dengan kedua kata di atas, tetapi artinya berlainan. Misalnya,
pegolf, pecatur, perenang, pesenam, dan petenis. Awalan pe- pada
kata-kata tersebut berarti pelaku olah raga golf, catur, renang, senam, dan
tenis. Selain itu, muncul juga bentuk lain seperti pemerhati ‘yang
memperhatikan’, pemersatu ‘yang mempersatukan’ dan pemerkaya ‘yang
memperkaya’. Bentuk-bentuk itu merupakan bentuk baru dalam bahasa
Indonesia. Kata-kata yang termasuk kata benda itu berkaitan dengan kata
kerja yang berawalan memper- atau memper- + kan.
Kini mari kita mencoba menaruh perhatian pada pemakaian
bentuk kata yang dicetak miring dalam kalimat berikut.
1. Pertamina akan mendatangkan alat pembor minyak dari Amerika
Serikat.
2. Generasi muda sekarang merupakan pewaris Angkatan 45.
3. Sebagai pengelola administrasi, dia begitu cekatan.
4. Betulkah bangsa Indonesia sebagai pengkonsumsi barang buatan
Jepang.
5. Siapa pun pemitnahnya harus dihukum.

Konfiks pe(N)-an dan pe(R)-an

Kata benda yang dibentuk dengan pe(N)-an menunjukkan proses
yang berkaitan dengan kata kerja yang berimbuhan me(N)-, me(N)-kan,
atau me(N)-i. Kata benda yang dibentuk den gan pe(R)-an ini
menunjukkan hal atau masalah yang berkaitan dengan kata kerja yang
berawalan be(R)-. Kita perhatikan contoh berikut:
Bahasa Indonesia dalam Penulisan Karya Ilmiah
BPDU-Universitas Widyatama
24
pe(N)- + rusak + -an → perusakan
pe(N)- + lepas + -an → pelepasan
pe(N)- + tatar + -an → penataran
Selain kata-kata yang dicontohkan, kita sering menemukan
kata-kata yang tidak sesuai dengan kaidah di atas seperti pengrumahan,
pengrusakan, pengluasan, penyucian (kain), penglepasan, penyoblosan,
dan pensuksesan. Kata-kata yang tidak sesuai dengan kaidah ini harus
dikembalikan pada bentuk yang tepat (Bagaimana bentuk yang tepat dari
kata-kata di atas menurut Saudara?).

Akhiran -an dan Konfiks ke-an

Kata benda dapat dibentuk dengan bentuk dasar dan akhiran -an
atau konfiks ke-an. Kata benda yang mengandung akhiran -an umumnya
menyatakan hasil, sedangkan kata benda yang mengandung konfiks ke-an
umumnya menyatakan hal. Untuk memperjelas uraian di atas, kita
perhatikan contoh berikut.
1. Dia mengirimkan sumbangan sepekan lalu, tetapi kiriman itu belum
kami terima.
2. Sebulan setelah dia mengarang artikel, karangannya itu dikirimkan ke
sebuah media massa.
Kata benda yang mengandung ke-an diturunkan langsung dari
bentuk dasarnya seperti contoh berikut.
1. Beliau hadir untuk meresmikan penggunaan gedung baru. Kehadiran
beliau disana disambut dengan berbagai kesenian tradisional.
2. Mereka terlambat menyerahkan utgasnya. Keterlambatan itu
menyebabkan mereka mendapatkan nilai jelek.
Isilah rumpang kalimat berikut dengan kata benda yang
mengandung akhiran -an atau konfiks ke-an.
1. Sejak lama ia dididik orang tuanya. ... yang diberikan orang tuanya itu
menyebabkan dia menjadi orang besar.
2. Mereka membantu kami sepekan lalu. ... itu sangat bermanfaat bagi
kami.
3. Masyarakat di pulau terpencil itu masih terbelakang. ... itu
menyebabkan taraf hidup mereka masih rendah.
4. Anak itu sangat pandai di kelasnya. Karena ... itu, dia memperoleh
beasiswa dari pemerintah.
5. Usaha yang ditempuhnya selalu gagal. Akan tetapi, dia tidak pernah
putus asa akibat ...nya itu.

Kata Kerja Bentuk me(N)- dan me(N)-kan

Akhiran -kan dan -i pada kata kerja dalam kalimat berfungsi
menghadirkan objek kalimat. Beberapa kata kerja baru dapat digunakan
dalam kalimat setelah diberi akhiran -kan atau -i. Mari kita perhatikan
contoh untuk memperjelas uraian.
1. Beliau sedang mengajar di kelas.
2. Beliau sedang mengajarkan bahasa Indonesia.
3. Beliau mengajari kami bahasa Indonesia di kelas.
4. Atasan kami menugasi kami mengikuti penyuluhan ini.
5. Atasan kami menugaskan pembuatan naskah pidato kepada sekretaris.

Awalan ke-

Awalan ke- berfungsi membentuk kata benda dan kata bilangan,
baik bilangan tingkat maupun bilangan yang menyatakan kumpulan. Kata
benda yang dibentuk dengan awalan ke- sangat terbatas, yaitu hanya pada
kata tua, kasih, hendak yang menjadi ketua, kekasih, dan kehendak.
Penentuan apakah awalan ke- sebagai pembentuk kata bilangan tingkat
atau kata bilangan yang menyatakan kumpulan harus dilihat dalam
hubungan kalimat. Misalnya kalimat berikut:
1. Tim kami berhasil menduduki peringkat ketiga dalam MTQ tingkat
Jawa Barat.
2. Ketiga penyuluh itu ternyata teman kami waktu di SMA.
Dalam percakapan sehari-hari, awalan ke- sering mengganti
awalan ter- sebagai bentuk pasif. Hal ini terjadi karena pengaruh bahasa
daerah atau dialek tertentu. Dalam situasi resmi, hal ini harus dihindari.perhatikan contoh berikut.
1. Menurut laporan yang dapat dipercaya, korban tanpa identitas itu
ketabrak mobil.
Seharusnya:
2. Menurut laporan yang dapat dipercaya, korban tanpa identitas itu
tertabrak mobil.

Akhiran Lain
Selain akhiran asli bahasa Indonesia -kan, -i, dan -an, terdapat
pula beberapa akhiran yang berasal dari bahasa asing, misalnya, -wan,
-man, dan -wati dari bahasa Sanskerta; akhiran -i, -wi, dan -iah dari
bahasa Arab. Akhiran -wan dan -wati produktif, sedangkan akhiran -man
tidak demikian. Akhiran -wi lebih produktif daripada akhiran -i dan -iah.
Akhiran -wi tidak hanya terdapat dalam bentukan bahasa asalnya, tetapi
juga terdapat dalam bentukan dengan bentuk dasar bahasa Indonesia.
Perhatikan beberapa contoh kata berikut.
karyawan
karyawati
olahragawan
olahragawati
budiman
seniman
manusiawi
surgawi
badani
badaniah
Beberapa contoh bentuk kata yang salah dan yang benar didaftarkan
berikut ini.
Salah
memparkir
menterjemahkan
mentafsirkan
Benar
memarkir
menerjemahkan
menafsirkan
mengontrakan
membanding
mengundur


disadur dari:

BPDU-Universitas Widyatama agus_buku_ajar_pdf
pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/.../agus_buku_ajar.pdf

Sabtu, 10 Oktober 2009

Tugas Bahasa Indonesia

Perkembangan Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang wajib digunakan sebagai bahasa persatuan dan sebagai alat untuk berkomunikasi antara berbagai suku dan budaya di Indonesia.
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, bahasa Indonesia adalah bahasa kerja (working language).
Dari sudut pandang linguistika, bahasa Indonesia adalah suatu varian bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau dari abad ke-19, namun mengalami perkembangan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja dan proses pembakuan di awal abad ke-20. Hingga saat ini, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.
Meskipun saat ini dipahami oleh lebih dari 90% warga Indonesia, bahasa Indonesia tidak menduduki posisi sebagai bahasa ibu bagi mayoritas penduduknya. Sebagian besar warga Indonesia berbahasa daerah sebagai bahasa ibu. Penutur bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Namun demikian, bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di surat kabar, media elektronika, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya, sehingga dapatlah dikatakan bahwa bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.

disadur dari : www.wikipedia.com

Senin, 28 September 2009

bwat blog...

bisa juga deh bkin blog..hehehehe.....
welcome to my blog..hahahaha..